Selasa, 15 Maret 2016

D's Day

Awal mula terjadi pagi tadi, mungkin pukul 08.15, saat itu saya menyalahkan handphone yang khusus untuk komunikasi telepon dan sms. Sesaat setelah turn on, si Kia (nama panjangnya 'tidak kia!') menunjukkan sebuah notifikasi yaitu memo peristiwa. Ketika membaca judulnya, seketika diri ini kembali mengingat kenangan hari kemarin.

Di layar Kia, tertulis judul "She's Birthday" dengan sebuah gambar kado, tak lupa angka 19th tercantum, ya itu usianya sekarang.

Dia yang hari-hari kemarin sering menemani tapi tak di sisi,

Dia yang dulu selalu mengajak interaksi tapi terlihat berbicara sendiri,

Dia di depan mata, kadang maya kadang nyata, selalu terlihat bahagia, walau berdasar sekedar menerka.


Pertama mengenalnya di 2012, tapi tak langsung mengajaknya bercengkrama, cuma memandang dari kejauhan. Kesan awal padanya adalah orangnya cukup rame, sering menggombal, peminum susu katanya. Dia tidak seputih lobak, kulit indonesia pada umumnya. Rambutnya panjang berponi, senyumnya manis, kesimpulannya adalah cukup menarik.

Berbulan-bulan jadi pemuja rahasia, ku beranikan diri untuk sekedar menyapa. Sapaanku dibalas, dan mulai saat itu pula diri ini merasa cocok dengannya. Tidak siang ataupun malam, jika ada jeda kerja untuk sekejap melihat, kupergunakan sebaik-baiknya.

Hari ke hari, Dia mengalami peningkatan dalam hal karier, yang tadinya substitusi, kemudian masuk tim inti, walau tidak ke posisi inti. Dia cukup senang, dan berharap selalu ada yang mendukungnya untuk tetap betah dan berkembang. Itu cukup bagus untuknya, juga untukku yang masih hype dengan kesehariannya.

Hampir setahun mengenalnya dekat, walau Dia tidak sebaliknya. Kuberanikan diri lebih dari aksi maya, dan yakin untuk menemui secara nyata. Saat itu Oktober 2013, dengan meninggalkan kerjaan di jauhnya Sulawesi Utara, terbang untuk bertatap muka di Jakarta.

Mungkin sedikit nekat, karena tanpa sanak saudara tapi berani ke ibukota, namanya juga anak muda. Tapi semua resah lenyap menghilang, ada teman yang menawarkan atap untuk sesaat, tempat untuk beristirahat. Teman tersebut bahkan keluarganya sangat baik pada saya, beberapa hari menjamu, mereka seakan tak memperlihatkan jemu. Tidak terlupakan kebaikannya, semoga mereka tetap sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.

Hari pertemuan tiba, tempatnya di selatan Jakarta. Pertama melihatnya tidak sesuai ekspektasi yang di harapkan, saya tidak mengira kalau pandangan mata sudah tak sejernih tahun sebelumnya. Dengan terpaksa harus memincingkan sorotan, supaya bisa melihatnya dalam rupa sebenarnya.

Setelah selesai dengan aktivitasnya, akhirnya bisa memandang langsung dirinya dengan mata kepala. Hanya berlangsung sepersekian detik, bertatapan sedikit berjabat tangan. Tidak ada rasa gugup, walau sejujurnya jantung berdegup. Dengan sedikit sikap kikuk, ku sapa hanya dengan satu kata pendek sambil tersenyum,

"Halo..", ucapku.

"Halo juga..", balasnya.

Momen yang sangat singkat, untuk penantian yang cukup lama. Tapi ternyata Teman yg ikut bersamaku langsung mengerti, dan menjelaskan singkat pada Dia, siapa dan darimana saya. Dia langsung memanggil dan kembali menyapaku yang sudah agak menjauh, dan kurasa ini adalah salah satu momen terbahagia dalam hidup.

Tidak lupa kutuliskan kesan ceria dan lega di media sosial, sekaligus memberitahu Dia, kalau tidak sedetikpun ku palingkan mata saat menyaksikan dirinya. Saat itu masih di atas kendaraan bersama Teman, menikmati malam ibukota, ramai, warna-warni gemerlapan. Suasananya begitu menyejukkan, sampai tak sadar adanya notifikasi, menunjukkan Dia merespon kutipanku padanya.

Malam yang luarbiasa.

Kisah menyenangkan terus berlanjut setahun kedepannya, sampai di awal 2015, kemudian diri ini memutuskan untuk tidak lagi menemani hari-harinya.

Apa alasannya?

Tidak ada alasan khusus, saya akhirnya berpikir, Dia adalah sesuatu yang sulit saya gapai dengan keadaan dan posisi saat itu. Kami jauh, dan tak pernah lagi bertemu. Interaksi tak seintens dahulu, membuat koneksi menjadi semakin semu. Ini mungkin sudah waktunya, untuk mencari kebahagiaan baru.

Tak terasa, 15 maret 2016, Upaya untuk menjauh dari Dia sukses terlaksana. Tidak ada lagi info kudapat darinya, sengaja kubuang sesuatu yang berhubungan tentangnya, kecuali beberapa foto yang kuselipkan di dompet lama. Hampir setahun tergenapi usaha melupakan, tapi Kia datang mengingatkan, seperti yang saya tulis di awal penggalan.

Memutarkan kembali kenangan manis 3 tahun belakangan, yang sebenarnya benar-benar sudah saya tinggalkan. Mungkin tidak benar-benar terlupakan, atau efek sisa-sisa nostaljik yang terlalu berkesan, yang akhirnya terbawa oleh perasaan. Mungkin.

Well, cuma ini yang bisa saya utarakan. Tidak ada kado, juga perayaan, yang saya berikan cuma kata-kata, dan sepenggal doa, semoga Dia selalu sehat dan bahagia.

Sekarang Dia sudah kelas 3 SMA, semoga Dia fokus ama pelajaran karena akan menghadapi ujian nasional.

Sekarang pergaulan cenderung tidak sehat, semoga Dia bisa memilah yang baik dan menjauhi yang buruk. Semoga Dia selalu ingat akan ajaran orang tua, dan terpenting, selalu dalam bimbingan-Nya.

Selamat ulang tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar