Judulnya agak panjang dan sistematis serta eksentris yes, hmm tema ini sangat fresh karena baru saya alami tadi siang, sebenarnya hal yang biasa, tapi dikarenakan jika suatu hal kecil bila didalami secara teliti, kita akan menemukan eskalasi-eskalasi nilai kehidupan berwarga dan bermasyarakat yang terdorong oleh keinginan luhur guna berkehidupan kebangsaan yang bebas. *plak *ngomong oupo!!
Langsung saja lah, jadi hari ini salah satu teman saya datang ke rumah. Awalnya dia berniat mengajak untuk nonton bareng sidang ke-20 kasus teh bersianida yang menewaskan miras dengan terdakwa bezita, tapi dikarenakan mereka yang sedang sidang ngomong dengan bahasa-bahasa intelek level 10, saya dan dia akhirnya menyerah dikarenakan sistem input otak kami tidak terlalu tanggap memuat data-data dari televisi (oh sebut saja teman saya Raflesiaarnoldi).
Setelah itu si bunga bangkai mengajak saya main ke kost-an temannya, alasannya cuman mau cuci mata. Saya dengan keadaan terpaksa akhirnya ikut dengan ketampanan seadanya, menuju kost-an temannya, dan temannya mengajak lagi ke kost-an temannya, intinya kami berpindah dari satu kost ke kost-an yang lain, benar-benar kegiatan yang wadaw membuang-buang waktu.
Kejadian berikut kejadian berjalan alot, mereka membahas sesuatu yang tidak penting dan tidak aktual. Lalu beberapa saat kemudian terjadilah percakapan laknat yang kira-kira begini chit-chatnya...
(A): "bro, mau minum gak? Kebetulan kita lagi rame, patungan .. tuh penjualnya dekat situ tuh.."
(B): "kalo mau minum skalian panggil si *tiiiiiit* (nama disamarkan), kalo mabok enak tuh bisa digilir.."
(A): "bro, mau gak nih?"
(Raflesia): "kalo cewenya bawa sinilah, tapi kalo minum kayanya gak bro.."
(A): "kalo situ bro? Ya daripada bengong kan.."
(Saya): "waduh bro, jangankan minum itu, minum marimas aja udah mabok, gak kuat mah saya!"
(B): "soalnya kalo gak mabok, cewe-cewenya bakalan susah diajakin, kan situ juga yang datang ke sini nyari cewe.."
(Saya): "ya jangan gitu juga lah, anak orang jangan diapa-apain, lagian yang nyari si bangke ini, saya mah nemenin doang.."
(A): "emang nyari yang gimana bro? Yang cantik ada, yang liar ada. Kita banyak stoknya koq.."
(Raflesiaarnoldi): "pokoknya yang ada ajalah.."
(A): "btw, si *tiiiiiiit* kemarin pulang kost-an nangis-nangis, katanya udah putus, padahal udah ditidurin pacarnya.."
(B): "lu malah gak tau kalo pacarnya suka mukul, tapi dia masih aja balikan, ketagihan kali gitu-gituan"
(A): "lah kemarin di kamarnya ampe teriak-teriak, ayam emang.."
(B): "makanya temen-temen lu ajakin minum, biar kita bisa ngeliat goyangannya si *tiiiiiiit*"
(A): "gimana bro? Biar gak bengong juga kita.."
(Raflesiaarnorldi): "kalo saya mah terserah, gimana ru?"
(Saya): dalam hati "sianying kalo masalah cewe langsung ngiler, baru tau saya ternyata dia juga pemuda biadab"
(A): "gimana bro?"
(Saya): "sorry aja nih, kalo ginian mending saya balik, gak cocok..."
*percakapan omong kosong ini sejujurnya masih panjang dan berlanjut layaknya sinetron tersandung oleh lulu tobing, tapi karena terlalu banyak memuat konten goblok dan tidak patut ditiru, jadinya saya cuma nulis yang seingatnya*
(Raflesiaarnoldi): "ru, main ke rumah cewe yang tadi dibahas yok, lumayan tuh!"
*kita berdua otw balik ke rumah*
(Saya): "lu kalo mau ke sana, pergi sendiri setan, lu rusak rusak sendiri, jangan bawa-bawa orang"
(Raflesiaarnoldi): "malu kali kalo sendiri.."
(Saya): "lah kalo malu, jangan pergi bego .. lu nyari cewe kemanapun bakal saya temenin, tapi kalo lu nyari cewe buat lu rusakin, lu gak usah datang lagi ke rumah. Saya ngomong keras bukan sok alim, tapi karena sy udah cukup bangsat, gak mau tambah bangsat lagi, saya yang belum disumpah gereja aja boro-boro bejat, lah elu yang sudah disumpah, pikiran malah sesat, gak ketolong lu.."
Sejujurnya saya sedikit emosi dalam perjalan pulang bersama si bangke Raflesiaarnoldi, tapi karena saya tau dia cuma anak muda yang gampang terpengaruh pergaulan yang begajulan, makanya saya sedikit maklum dan berusaha untuk menyuruh si bangke tidak lagi ikut-ikutan pada ajakan laknat para mahasiswa fakultas ekonomi tersebut, mungkin karena mahasiswa-mahasiswa ini keseringan mendapat materi pemasukan dan pengeluaran (masuk-keluar *plak ) makanya otak mereka agak melenceng ke arah bawah.
Well, mungkin pengalaman saya yang agak miris ini bisa jadi peringatan untuk sedikit waspada dengan pergaulan masa kini, dari yang saya tulis di atas, mungkin rangkuman poin-poinnya saya jabarkan sebagai berikut,
- Minum di siang hari, ini asli govlog (bukan pergi bermain vlog). Mindset seperti ini hanya dimiliki mereka yang sok laki, bahwasanya laki-laki jika berkumpul harus gilir miras, bahwasanya definisi 'LAKI' itu terlihat keras, yeah dude its so yesterday, 'LAKI' itu minum air mineral, atau air isotonik, sesekali minuman berenergi, bukan maboknya yang membuat laki terlihat LAKI, tapi SEHAT JIWA RAGA bung! sok LAKI tapi SAKIT ya lama-lama MATI somplak. Susah emang portal kompleks.
- Ada yang namanya Azas Traktir, yaitu faktor dimana yang mengajak adalah yang mentraktir, sedangkan yang kita lihat sekarang, dia yang ngajakin ketemuan, pas ngumpul malah minta patungan. Jika menemukan oknum seperti ini, lebih baik masukan sebuah granat aktif ke dalam saku celanannya, sehingga spesies seperti itu lenyap lalu terciptalah kehidupan pertemanan yang lebih kondusif.
- Hampir semua laki-laki akan menuntut wanita yang masih 'tersegel', tapi tidak bisa dipungkiri yang paling ironis adalah bagian dimana kecenderungan laki-laki yang merobek segel tapi tidak membeli. Artinya adalah laki-laki menuntut pada apa yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya, tapi melalaikan kemudian menyalahkan. Saya pun sebagai seorang laki-laki tidak luput dari celah ini, saya sudah sering kali merusak segel secara diam-diam, lalu pergi setelah puas, maafkan dosa-dosaku komik gramedia.
- Cewe jaman sekarang lebih rapuh dari triplex kontrakan, banyak yang menerima janji manis serta harapan, bualan cinta masa depan, lalu tak sadar yang dikenakan sudah acak-acakan, kemudian lepas dari badan, lalu berlanjutlah layaknya DVD jepang jenis perkodean. Disini masalahnya, ketika para wece-wece beranggapan pacar adalah segalanya, memberikan semuanya, padahal itu semua bisa berakhir dengan mudahnya kapan saja. Jaga diri, berpikir dampak ke depan, dan juga dampak ke sekitar, setidaknya bisa membantu untuk kita anak muda supaya tidak terlalu jauh lewati batasan.
Wadoooh ogut ngomong kek orang bener yee, padahal mah aslinya rusak juga wkwkwkwk. Saya di sini bukan hadir sebagai tokoh yang menebarkan nilai-nilai moral, tapi karena saya sudah banyak ngeliat dampak nyata pergaulan bebas, makanya saya berusaha untuk tidak ikut-ikut merasakan. Saya rusak tapi tidak serusak demikian, untungnya saya dibesarkan oleh bimbingan keluarga yang baik, saya tidak merokok, tidak miras, tidak punya pacar pun iya. Bermain cinta sudah jarang, padahal sekarang ketampanan sedang dalam fase memuncak, tapi sang hawa belum juga berjumpa. Kemarin baru mau konsultasi ke aa betot, tapi keburu ditangkap karena kasus perguruan spiritual terselubung alias perkumpulan minum teh sisri rasa psikotropika, sungguh wadaw dunia hiburan tanah air.
Daripada alurnya merembes panjang lebar jajar genjang, lebih baik saya akhiri tulisan random ini, semoga teman-teman yang membaca bisa mendapatkan hikmah, dan menjalani hidup dengan lebih bijaksana lagi.
btw si bangke tadi saya bbm, tadi langsung pulang atau bagaimana, tapi dia malah balas...
"Gak langsung pulang, singgah dulu ke rumahnya cewe itu hehe"
".................."
Selasa, 20 September 2016
Minggu, 03 Juli 2016
June 26th
Beberapa tahun belakangan, saya mencoba sebuah aktifitas aneh di luar kebiasaan manusia nyata, yakni melupakan hari ulang tahun. Biasanya kejadian tersebut tampil di sinetron-sinetron, saking sibuknya sampai lupa hari ultahnya sendiri, kemudian orang lain yang menyadarkan, wah aku terkejut.
Sampai 24 juni kemarin saya sudah mencoba, tapi notif facebook menghancurkan segalanya, pagi-pagi sudah ada yang mengirim postingan, cewe lagi (sayang ada pacarnya ;_;), kemudian diiringi notif-notif lain dari sesama jomblowan veteran. Ini permasalahannya, saya mencoba untuk lupa, tapi tanggal ultah masih tercantum di kronologi, tidak tertolong.
Di rumah pun begitu, selalu ada kebiasaan masak-masak oleh ortu, mungkin sebagai pengingat & ucap syukur kalau orang di rumah ada yang bertambah umurnya. Saya tidak bisa mengelak dari ini, beralasan karena masakan tersebut terlalu sayang untuk dilewatkan, juga takut kena kutukan karena telah menolak berkat, haleluyah.
Selain mencoba melupakan hari ultah, saya memang punya banyak aktifitas yang beda dari mahluk bumi pada umumnya, mulai dari memandangi isi gelas sebelum minum, mengendus masakan sebelum dimakan, membasahi kaki, berjalan tanpa suara jejak, membaca pikiran, pengeliatan transparan, dan menggosongkan air, tapi melupakan hari lahir inilah yang sulit saya realisasikan, mungkin tahun-tahun berikut baru akan tercapai yes.
Selain ingin melupakan hari lahir, saya juga mencoba untuk tidak menghitung umur. Makanya di facebook saya mencantumkan lahir pada tahun 1921, supaya bisa menipu diri dan teman-teman. Sebenarnya ingin mengaplikasikan hal serupa di ktp atau kartu keluarga, tapi saya takut tertangkap petugas sensus, lalu dideportasi ke kampung halaman di perfektur futurtsonga republik kuvukiland, yang kegiatan sehari-harinya hanya bermain gwara-gwara.
Terlihat konyol yah, tapi beginilah cara saya pribadi memaknai hidup, bagi saya makna hidup bukan saat umur berapa untuk mencapai apa, saya lebih mementingkan untuk melewati hari dengan bahagia dan sehat jiwa raga. Angka dalam hidup terkadang memaksa untuk membuat suatu tuntutan, melakukan ini itu, mendapat ini itu. Mungkin ini lebih ke tipe orang yang merasa hidupnya harus terorganisir dengan baik, dan saya adalah tipe orang yang manajemen hidupnya terlanjur acak-acakan. Ibarat pendaki yang turun gunung, orang lain turun sesuai rute, saya pasti akan menyeleweng dari jalur, karena berpikir selama terus berjalan turun akan sampai di tempat yang tidak jauh berbeda. *btw saya serius pernah turun gunung jalur random, lalu nyasar di belakang rumah orang huehehe
Intinya adalah, saat manusia telah melewati masa remaja, saat itulah dia merasa berhak memutuskan jalan ninjanya. Dulu ortu akan menyetir sesuai dengan arahannya, tapi ketika kita dewasa, mereka akan lebih memilih untuk mensupport. Saya mengalami itu, pernah sekali dua kali mencoba pergi mandiri jauh dari rumah, dan ortu hanya bisa mendukung dan mendoakan, dan hal itulah yang membuat kita sadar kalau sejauh apapun kita berada, selalu ada tempat untuk pulang. Walaupun saya sedikit agak gila, tapi ada orang di rumah yang berharap saya selalu balik ke rumah, ya kadang-kadang memang tidak di cariin, karena mereka tau saya memang sering raib gak jelas.
Well, 26 juni beberapa tahun silam saya dilahirkan, walaupun tahun ini sudah tidak ditemani kehadiran seorang bapak, tapi dengan kumpulnya semua keluarga saya sudah cukup bahagia. Saat menulis ini saya sedang mengisolasi diri di kamar ditemani tracklist album Blackhole and Revelation dari MUSE, di luar langit sedang kelabu, seakan mendukung diri ini yang lari dari kenyataan "pajak hari ultah" dari teman-teman. Logikanya adalah ini hari untuk merayakan saya, bukan saya yang merayakan kalian, jadi kalian harusnya mentraktir saya, bukan saya yang mentraktir kalian. #sikap #lelaki
Btw soal resolusi, yah cukup 720P aja keles ye #plak ,, maksudnya harapan kedepan? Hmm punya PS4 biar bisa mencicipi RE7 *uhuk *kode
Akhir kata, Happy Birthday to me, hail hydra!!
Sampai 24 juni kemarin saya sudah mencoba, tapi notif facebook menghancurkan segalanya, pagi-pagi sudah ada yang mengirim postingan, cewe lagi (sayang ada pacarnya ;_;), kemudian diiringi notif-notif lain dari sesama jomblowan veteran. Ini permasalahannya, saya mencoba untuk lupa, tapi tanggal ultah masih tercantum di kronologi, tidak tertolong.
Di rumah pun begitu, selalu ada kebiasaan masak-masak oleh ortu, mungkin sebagai pengingat & ucap syukur kalau orang di rumah ada yang bertambah umurnya. Saya tidak bisa mengelak dari ini, beralasan karena masakan tersebut terlalu sayang untuk dilewatkan, juga takut kena kutukan karena telah menolak berkat, haleluyah.
Selain mencoba melupakan hari ultah, saya memang punya banyak aktifitas yang beda dari mahluk bumi pada umumnya, mulai dari memandangi isi gelas sebelum minum, mengendus masakan sebelum dimakan, membasahi kaki, berjalan tanpa suara jejak, membaca pikiran, pengeliatan transparan, dan menggosongkan air, tapi melupakan hari lahir inilah yang sulit saya realisasikan, mungkin tahun-tahun berikut baru akan tercapai yes.
Selain ingin melupakan hari lahir, saya juga mencoba untuk tidak menghitung umur. Makanya di facebook saya mencantumkan lahir pada tahun 1921, supaya bisa menipu diri dan teman-teman. Sebenarnya ingin mengaplikasikan hal serupa di ktp atau kartu keluarga, tapi saya takut tertangkap petugas sensus, lalu dideportasi ke kampung halaman di perfektur futurtsonga republik kuvukiland, yang kegiatan sehari-harinya hanya bermain gwara-gwara.
Terlihat konyol yah, tapi beginilah cara saya pribadi memaknai hidup, bagi saya makna hidup bukan saat umur berapa untuk mencapai apa, saya lebih mementingkan untuk melewati hari dengan bahagia dan sehat jiwa raga. Angka dalam hidup terkadang memaksa untuk membuat suatu tuntutan, melakukan ini itu, mendapat ini itu. Mungkin ini lebih ke tipe orang yang merasa hidupnya harus terorganisir dengan baik, dan saya adalah tipe orang yang manajemen hidupnya terlanjur acak-acakan. Ibarat pendaki yang turun gunung, orang lain turun sesuai rute, saya pasti akan menyeleweng dari jalur, karena berpikir selama terus berjalan turun akan sampai di tempat yang tidak jauh berbeda. *btw saya serius pernah turun gunung jalur random, lalu nyasar di belakang rumah orang huehehe
Intinya adalah, saat manusia telah melewati masa remaja, saat itulah dia merasa berhak memutuskan jalan ninjanya. Dulu ortu akan menyetir sesuai dengan arahannya, tapi ketika kita dewasa, mereka akan lebih memilih untuk mensupport. Saya mengalami itu, pernah sekali dua kali mencoba pergi mandiri jauh dari rumah, dan ortu hanya bisa mendukung dan mendoakan, dan hal itulah yang membuat kita sadar kalau sejauh apapun kita berada, selalu ada tempat untuk pulang. Walaupun saya sedikit agak gila, tapi ada orang di rumah yang berharap saya selalu balik ke rumah, ya kadang-kadang memang tidak di cariin, karena mereka tau saya memang sering raib gak jelas.
Well, 26 juni beberapa tahun silam saya dilahirkan, walaupun tahun ini sudah tidak ditemani kehadiran seorang bapak, tapi dengan kumpulnya semua keluarga saya sudah cukup bahagia. Saat menulis ini saya sedang mengisolasi diri di kamar ditemani tracklist album Blackhole and Revelation dari MUSE, di luar langit sedang kelabu, seakan mendukung diri ini yang lari dari kenyataan "pajak hari ultah" dari teman-teman. Logikanya adalah ini hari untuk merayakan saya, bukan saya yang merayakan kalian, jadi kalian harusnya mentraktir saya, bukan saya yang mentraktir kalian. #sikap #lelaki
Dan untuk teman-teman yang sudah mengucapkan, terima kasih banyak, semoga kita masuk surga sama-sama.
Untuk teman-teman yang mengingat tapi tidak memberi ucapan, tidak masalah bagi saya, semoga kita juga masuk surga bersama-sama, tapi kalian tempatnya di bangku tribun atas.
Untuk teman-teman yang berharap makan-makan, mungkin lain waktu, bukannya saya pelit, lebih tepatnya saya sedang berhemat, maklum ultah di tanggal tua.
(?) Berarti tanggal muda ada traktiran?
(*) Sorry lagi banyak kebutuhan haha .. #diblender
Btw soal resolusi, yah cukup 720P aja keles ye #plak ,, maksudnya harapan kedepan? Hmm punya PS4 biar bisa mencicipi RE7 *uhuk *kode
Akhir kata, Happy Birthday to me, hail hydra!!
Jumat, 01 Juli 2016
Double Agent
Beberapa waktu lalu sempat nonton Captain America: Civil War, dan beberapa hari setelahnya si pembuat komik Captain America mengumumkan kabar bahwa bang Steve Roger itu double agent antara hydra dan avengers, ingin rasanya melempar frisbee kapten ke si kreator.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena Double Agent pun akan bisa kita temui. Double Agent di sini bukan seorang intelejen yang bekerja untuk pemerintah belanda sekaligus indonesia, tapi seonggok teman atau seorang yang kau beri informasi, kemudian orang tersebut menyebarluaskannya lagi. Bisa juga alay yang sering broadcast BBM itu disebut Double Agent, bedanya mereka punya kadar intelektual lemah, dengan moto hidup "yang penting share" bukan "share yang penting". Mahluk-mahluk tersebut cocoknya dikumpulkan dalam apollo 66, trus dikirim ke planet nibiru dengan perbekalan momogi secukupnya.
Lalu ada juga jenis Double Agent berupa teman curhat, tapi meneruskan curhat tersebut pada subjek yang bersangkutan. Double Agent ini di Indonesia disebut Ember. Jangan galau dekat orang ini.
Double Agent pun bisa kita temukan dalam kehidupan akademia, misalnya ketika ujian. Ketika kita berusaha belajar semalaman, tapi dimintai contekan oleh teman yang semalaman begajulan, tapi karena faktor teman kita tetap memberikan jawaban, lalu si teman memberikan ke teman lainnya, kemudian berlagak seakan dia yang bersusah payah memutar pikiran. Jenis teman seperti ini tepat jadi sasaran kamehameha dari arah belakang.
Saya membahas Double Agent karena beberapa minggu yang lalu, saya merasakan sendiri bagaimana berinteraksi dengan Double Agent. Coba ceritakan? Hmm sepertinya kepanjangan, tapi intinya saya lega agent tersebut sudah memakan umpan dan mengantarkan pesan tersirat yang saya beberkan, sampai di tujuan, dan mendapat respon dari si subjek utama. Achievement Unlocked
*Dadah dadah ke phone screen
(Red: Dadah/bye bukan dada)
Seyogyanya, Double Agent tidak selamanya negatif dan masih bisa dipergunakan sebagai hal yang positif, misalnya jadi jubir atau pengantar pesan agar supaya untuk menjaga silaturahmi tetap going on *tsah.
Double Agent pun membuat seorang dengan tipe 'berdiri dalam gelap' tetap demikian adanya, karena sesuatu yang dia kirimkan tidak langsung melainkan melalui perantara, keep being mysteriously *plak #RIPgrammar
Double Agent adalah jenis penyebar aktif, jadi untuk sesuatu yang akan kau rahasikan, sebaiknya tidak membebankan kepada orang tersebut. Tidak sulit membedakan Double Agent, ciri-cirinya adalah;
- Selalu ada saat aib seorang mulai tersebar
- Lubang telinganya sedikit lebih besar 5 milimeter dari orang biasa
- Elastisitas bibirnya flexibel karena sering menebar kata-kata dengan kecepatan 18 kata dalam 5 detik
- Sorot matanya penuh kecurigaan dan awas pada tiap isu yang merebak di sekitarnya
- Pori-porinya cenderung membuka-menutup setiap menelisik gosip baru yang sedang hangat-hangatnya.
Informasi ini berdasarkan penelitian ahli bidang perkepoan universitas stamford bridge di norwegia tenggara.
Ingat, Double Agent bukan hanya dikarenakan adanya kesempatan, tapi juga karena diri sendiri yang mengalami kelengahan, san chai san chai. #alaBiksuThong
Double Agent definisi dalam kamus palelupedia adalah seorang yang mengaku team nasi goreng tapi nasi kuning temannya diembat juga. *based on true event
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena Double Agent pun akan bisa kita temui. Double Agent di sini bukan seorang intelejen yang bekerja untuk pemerintah belanda sekaligus indonesia, tapi seonggok teman atau seorang yang kau beri informasi, kemudian orang tersebut menyebarluaskannya lagi. Bisa juga alay yang sering broadcast BBM itu disebut Double Agent, bedanya mereka punya kadar intelektual lemah, dengan moto hidup "yang penting share" bukan "share yang penting". Mahluk-mahluk tersebut cocoknya dikumpulkan dalam apollo 66, trus dikirim ke planet nibiru dengan perbekalan momogi secukupnya.
Lalu ada juga jenis Double Agent berupa teman curhat, tapi meneruskan curhat tersebut pada subjek yang bersangkutan. Double Agent ini di Indonesia disebut Ember. Jangan galau dekat orang ini.
Double Agent pun bisa kita temukan dalam kehidupan akademia, misalnya ketika ujian. Ketika kita berusaha belajar semalaman, tapi dimintai contekan oleh teman yang semalaman begajulan, tapi karena faktor teman kita tetap memberikan jawaban, lalu si teman memberikan ke teman lainnya, kemudian berlagak seakan dia yang bersusah payah memutar pikiran. Jenis teman seperti ini tepat jadi sasaran kamehameha dari arah belakang.
Saya membahas Double Agent karena beberapa minggu yang lalu, saya merasakan sendiri bagaimana berinteraksi dengan Double Agent. Coba ceritakan? Hmm sepertinya kepanjangan, tapi intinya saya lega agent tersebut sudah memakan umpan dan mengantarkan pesan tersirat yang saya beberkan, sampai di tujuan, dan mendapat respon dari si subjek utama. Achievement Unlocked
*Dadah dadah ke phone screen
(Red: Dadah/bye bukan dada)
Seyogyanya, Double Agent tidak selamanya negatif dan masih bisa dipergunakan sebagai hal yang positif, misalnya jadi jubir atau pengantar pesan agar supaya untuk menjaga silaturahmi tetap going on *tsah.
Double Agent pun membuat seorang dengan tipe 'berdiri dalam gelap' tetap demikian adanya, karena sesuatu yang dia kirimkan tidak langsung melainkan melalui perantara, keep being mysteriously *plak #RIPgrammar
Double Agent adalah jenis penyebar aktif, jadi untuk sesuatu yang akan kau rahasikan, sebaiknya tidak membebankan kepada orang tersebut. Tidak sulit membedakan Double Agent, ciri-cirinya adalah;
- Selalu ada saat aib seorang mulai tersebar
- Lubang telinganya sedikit lebih besar 5 milimeter dari orang biasa
- Elastisitas bibirnya flexibel karena sering menebar kata-kata dengan kecepatan 18 kata dalam 5 detik
- Sorot matanya penuh kecurigaan dan awas pada tiap isu yang merebak di sekitarnya
- Pori-porinya cenderung membuka-menutup setiap menelisik gosip baru yang sedang hangat-hangatnya.
Informasi ini berdasarkan penelitian ahli bidang perkepoan universitas stamford bridge di norwegia tenggara.
Ingat, Double Agent bukan hanya dikarenakan adanya kesempatan, tapi juga karena diri sendiri yang mengalami kelengahan, san chai san chai. #alaBiksuThong
Film Rekomen
Yooooot, lama tidak mereview film (lebih tepatnya mengulas random) karena bahasan seperti ini sepertinya sangat membosankan bagi hamba. Sekali lagi, meREVIEW film itu harus didasari dengan pengamatan jeli dengan menonton sebuah film sekurang-kurangnya 2x, karena Review berarti mqs soal premis, alur cerita, sinematografi, akting, pencahayaan, tata rias tata busana dan tata citata. *apadah
Kali ini saya mungkin cuma rekomendasi sebuah film dari beberapa film yang sudah saya tonton sebulan terakhir seperti,
Jepang:
- Noroi
- Whats going on with my sister #salahdonlot
- Princess sakura forbidden pleasure #salahdonlot
- Ju-on the final
- Eyes
- Innersable (blum ada subtitlenya, nonton pake insting)
- Boruto Naruto the movie
- Detective Conan the movie
Hollywood:
- 10 cloverfield lane
- Containment
- Southbound
- Emelie
- Hush
- The visit
- 28 days nyambung 28 weeks later
- The blair witch's project
- Paranormal activity: the ghost dimension
- Cell (di sini pacar saya main, si Isabelle Fuhrman) *digergaji
- Last shift
- The mist (maximum superior seiya twist ending)
- The midnight meat train
- Shaun of the dead
- The Offering (pemainnya hollywood, tapi film singapura)
Korea:
- I saw the devil
- The piper
- The phone
Dan series Fear the walking dead season 1, beberapa film legend, beberapa bagus, beberapa biasa aja, dan yang saya beri hestek #salahdonlot adalah film-film yang sebaiknya tidak ditonton di ruang keluarga, alias terlalu banyak mengumbar adegan yang kontra dengan kebijakan internet positif. Percayalah saya benar-benar #salahdonlot, tapi dikarenakan sudah #terlanjutdonlot jadi ya di tonton juga lah, right dude? *plak
Dari puluhan film-film di atas, ada satu yang terlalu menarik perhatian saya, film korea yang judulnya The Phone, genrenyaremix koplo drama, thriller, sci-fi. Sebenarnya awal liat genre drama agak sungkan untuk mengeluarkan kuota, tapi karena mengandung bumbu thriller (korea banyak yang bagus thriller misterinya), jadi tertarik untuk lanjut baca ke sinopsisnya. Menceritakan tentang seorang pengacara yang istrinya dibunuh secara misterius, dan tepat setahun setelah pasca kejadian, doi dapat telpon dari almarhum istrinya, yang seakan-akan hidup kembali. #jengjeng
Bila dipandang-pandang sinopsisnya, film ini pasti mengandung unsur goib? Hmm di sinilah menariknya film ini, kita sebagai penonton akan dibawa mengikuti alur cerita, scene demi scene akan semakin menimbulkan pertanyaan "gimana kelanjutnya ya?".
Sejak awal film mungkin penonton sudah bisa tau apa yang dialami oleh si bapak pengacara ini, dan pasti ada beberapa penonton yang kemudian stop dan beralih ke film lain. Tapi untunglah saya menyukai film dengan premis seperti film mandarin yang dulu pernah saya tonton berjudul Secret, mengambil tema yang sama, tapi The Phone tampil dengan ebih memainkan adrenalin, memainkan emosi penonton sehingga berteriak "woy tembak gobloq, aa payah portal kompleks" layaknya ibu-ibu menonton serial Uttaran, demi dewa.
Saya beberapa kali menonton film horror atau thriller misteri korea macam Death Bell, Mourning Grave, Mother dan I Saw The Devil, beberapa lupa judulnya karena nontonnya di tivi kabel channel korea, dan saya akui genre misteri korea sangat bagus dan jenius. Ajussi, oppa dan eunni korengan sangat lihai meramu teka-teki menjadi sebuah film yang epic, ditambah dengan mbak-mbak aktris yang kadang membuat hamba kehilangan fokus sementara karena kecantikannya yang menyegarkan mata, tak peduli itu kecantikan alami atau jogres plastik gorengan.
Demikian untuk film The Phone, untungnya film ini tidak banyak poin-poin Parent guide untuk ukuran film korea. Film ini aman ditonton di ruang keluarga, unsur gorenya pun tidak berasa apa-apa, saya hanya merekomendasikan dan tidak mengulas terlalu banyak, karena film ini terlalu rentan sopiler aka Spoiler. Jika diberi penilaian untuk film ini, mungkin akan saya beri 7.5 untuk keseluruhan, btw istri dan anak si pengacara cantik-cantik loh, ya nilai tambahan lah. Huehue
Kalau mau download, silahkan klik di sini, kalau linknya tidak bisa, berarti anda ketipu karena memang linknya tidak ada, itulah mengapa Google tercipta, mau link ya cari di sana.
Untuk yang mau nanya-nanya deretan film di atas rekomen atau tidak, mensyong aja di twitter saya @Herjudd, btw saya juga sedang menonton filmnya abang Tom Cruise yaitu Jack Reacher, dan film ini sungguh keren, tonton sendiri.
Kali ini saya mungkin cuma rekomendasi sebuah film dari beberapa film yang sudah saya tonton sebulan terakhir seperti,
Jepang:
- Noroi
- Whats going on with my sister #salahdonlot
- Princess sakura forbidden pleasure #salahdonlot
- Ju-on the final
- Eyes
- Innersable (blum ada subtitlenya, nonton pake insting)
- Boruto Naruto the movie
- Detective Conan the movie
Hollywood:
- 10 cloverfield lane
- Containment
- Southbound
- Emelie
- Hush
- The visit
- 28 days nyambung 28 weeks later
- The blair witch's project
- Paranormal activity: the ghost dimension
- Cell (di sini pacar saya main, si Isabelle Fuhrman) *digergaji
- Last shift
- The mist (maximum superior seiya twist ending)
- The midnight meat train
- Shaun of the dead
- The Offering (pemainnya hollywood, tapi film singapura)
Korea:
- I saw the devil
- The piper
- The phone
Dan series Fear the walking dead season 1, beberapa film legend, beberapa bagus, beberapa biasa aja, dan yang saya beri hestek #salahdonlot adalah film-film yang sebaiknya tidak ditonton di ruang keluarga, alias terlalu banyak mengumbar adegan yang kontra dengan kebijakan internet positif. Percayalah saya benar-benar #salahdonlot, tapi dikarenakan sudah #terlanjutdonlot jadi ya di tonton juga lah, right dude? *plak
Dari puluhan film-film di atas, ada satu yang terlalu menarik perhatian saya, film korea yang judulnya The Phone, genrenya
Bila dipandang-pandang sinopsisnya, film ini pasti mengandung unsur goib? Hmm di sinilah menariknya film ini, kita sebagai penonton akan dibawa mengikuti alur cerita, scene demi scene akan semakin menimbulkan pertanyaan "gimana kelanjutnya ya?".
Sejak awal film mungkin penonton sudah bisa tau apa yang dialami oleh si bapak pengacara ini, dan pasti ada beberapa penonton yang kemudian stop dan beralih ke film lain. Tapi untunglah saya menyukai film dengan premis seperti film mandarin yang dulu pernah saya tonton berjudul Secret, mengambil tema yang sama, tapi The Phone tampil dengan ebih memainkan adrenalin, memainkan emosi penonton sehingga berteriak "woy tembak gobloq, aa payah portal kompleks" layaknya ibu-ibu menonton serial Uttaran, demi dewa.
Saya beberapa kali menonton film horror atau thriller misteri korea macam Death Bell, Mourning Grave, Mother dan I Saw The Devil, beberapa lupa judulnya karena nontonnya di tivi kabel channel korea, dan saya akui genre misteri korea sangat bagus dan jenius. Ajussi, oppa dan eunni korengan sangat lihai meramu teka-teki menjadi sebuah film yang epic, ditambah dengan mbak-mbak aktris yang kadang membuat hamba kehilangan fokus sementara karena kecantikannya yang menyegarkan mata, tak peduli itu kecantikan alami atau jogres plastik gorengan.
[Uneg Uneg Corner], terkadang saya kasian ama cewek-cewek korea yang didalam film selalu dituntut untuk beradegan semi bahkan frontal. Menurut saya ini tidak terlalu perlu karena sudah didukung dengan segi cerita yang menarik. Beda dengan Hollywood yang Love Scene adalah suatu kebiasaan bodoh dalam filmnya, saya sedikit tau kebenaran kalau di korea adegan macam itu dianggap batu sandungan untuk nona-nona korea bila ingin eksis di dunia hiburan sana. Jika dibandingkan dengan tetangga sebelah, Jepang sudah bisa memilah dunia hiburannya dengan adanya segmen JAV, tidak seperti korea yang sudah menjadi rahasia umum adanya praktek prostitusi di dunia agensi hiburan, cukup miris buat lelaki baik seperti saya.
Demikian untuk film The Phone, untungnya film ini tidak banyak poin-poin Parent guide untuk ukuran film korea. Film ini aman ditonton di ruang keluarga, unsur gorenya pun tidak berasa apa-apa, saya hanya merekomendasikan dan tidak mengulas terlalu banyak, karena film ini terlalu rentan sopiler aka Spoiler. Jika diberi penilaian untuk film ini, mungkin akan saya beri 7.5 untuk keseluruhan, btw istri dan anak si pengacara cantik-cantik loh, ya nilai tambahan lah. Huehue
Kalau mau download, silahkan klik di sini, kalau linknya tidak bisa, berarti anda ketipu karena memang linknya tidak ada, itulah mengapa Google tercipta, mau link ya cari di sana.
Untuk yang mau nanya-nanya deretan film di atas rekomen atau tidak, mensyong aja di twitter saya @Herjudd, btw saya juga sedang menonton filmnya abang Tom Cruise yaitu Jack Reacher, dan film ini sungguh keren, tonton sendiri.
Jumat, 03 Juni 2016
Menulis
Sebenarnya lebih cocok kalo disebut mengetik, baik itu cerpen, cerita panjang, novel dll dimulai dengan item mesin ketik atau laptop atau komputer bla bla bla soalnya kalo nulis pake tulisan tangan bisa gempor tangan kita. Btw ini bukan mengupas soal ketik mengetik, tapi tentang sulitnya membuat sebuah karya tulis.
Tong, emang lu penulis terkenal sampe ngerti susahnya nulis?
Nah makanya itu, saking sulitnya menulis, tulisan saya sering kandas di tengah jalan. Saya bingung, karya tulis sama hubungan asmara kenapa saling berkoalisi dalam kehidupan sehari-hari saya huhuhu. #plak
Daripada curhat tentang kengenesan kalbu, lebih endes kalau saya mulai pembahasannnya, jadi gini (cari posisi pw, lempar poni), sebelumnya saya pernah punya karangan tulisan yang sudah diposting di catatan facebook, bisa dilokit di akun Herjud, karangan itu sebut saja fanfict, semacam tulisan seorang penggemar yang membuat sebuah cerita fiksi, yang di mana sosok yang dikaguminya bermain dalam cerita tersebut, simpelnya fantasi penggemar pada idolannya, ingat ini FANTASI, bukan DELUSI maupun ILUMINASI atau ZIONIS juga DESEPTIKON.
Fanfict itu jenis tulisan yang gampang, buat imajinasi praktis tapi menarik, tidak perlu kosakata baku atau formal, dengan perspektif orang pertama, seet jadilah sebuah karya, tapi belum tentu karya anda disenangi atau diminati, tergantung premisnya sih kalau kata juri komedi berdiri.
Premis yang saya buat waktu itu sederhana, seorang pembuat kopi (kalau barista ketinggian) di sebuah warung kopi pinggir jurang maksudnya jalan, yang mengalami kisah menarik yaitu warkopnya dijadikan tempat nongkrong sebuah grup idola, dan kemudian perlahan-lahan memunculkan bias-bias asmara di antara beberapa tokoh di dalamnya. Jangan menganggap dulu karangan saya itu mainstream, big no, saya ngebuat tulisan itu serealitas mungkin, soalnya 40% dari karangan itu pernah teraplikasi dalam hidup baginda, 70%nya walaupun fiktif tapi tidak saya buat terlalu cinderella story seperti contoh seorang artis muda jatuh cinta pada karyawan warkop yang telah menumpahkan air mendidih 220° fahrenheit di atas kepalanya, karena saya tau percintaan itu tidak semudah kisah ftv atau drama korea.
(Tidak mudah bagi yang parasnya standar maksud saya)
Mong-ngomong itu 40% 70%=110% ya...
Well, balik lagi ke persoalan, seperti yang saya bilang fanfict itu jenis karangan yang mudah, beda dengan cerita panjang atau semacam teenlit sebutan anak 90an, serta novel 300an halaman, jenis ini harusnya sudah masuk dalam gaya baku dan formal, walaupun beberapa masih ada yang make penulisan casual, tapi tatanannya sudah harus sesuai standar percetakan, nah bagian ini yang sulit, mungkin saya jabarkan satu persatu...
- Sudut pandang, kebanyakan novel yang pernah saya baca menggunakan perspektif orang ketiga yang bisa menjelaskan semua kejadian atau gambaran secara detil. Ini agak sulit, soalnya imajinasi kita harus luwes, ibarat seorang sutradara yang menciptakan tokoh protagonis dan antagonis, lalu memainkannya pula. Beda dengan sudut pandang pertama, hanya menciptakan satu tokoh lalu bercerita tentang apa yang dialami atau dilihat oleh tokoh itu, dan digambarkan dengan sosok AKU. Kesulitannya beda, PERSPEKTIF-3 harus punya ide yang lebih banyak dan luas, jeli dan mendetail, tapi keuntungan sudut pandangan ini yaitu lembar demi lembar akan gampang terisi banyak, tapi di sisi lain akan mudah membuat bosan. Sedangkan kesulitan PERSPEKTIF-1 yaitu membuat tulisan jadi lebih hidup, karena berbekal dengan satu pandangan yang kita harus menciptakan suasana yang tidak terlalu monoton
- Pemilihan kata, beh ini yang paling kampret menurut saya, ini soal kemampuan ilmu berbahasa indonesia yang baik, benar, dan sesuai ejaan yang disempurnakan. Saya pernah bilang ke seorang teman, bahasa indonesia itu lebih susah dari bahasa kuvukiland, ini soal cocok-cocokan kata antara MELIRIK dan MENENGOK, tepat-tepatan penempatan antara DIBAJAK dan DI BAJAK. Itulah kalau kita mau merasakan susahnya bahasa indonesia, menulislah.
- Mood, nah ini juga yang agak sue. Ketika ingin menulis, ada baiknya diawali dengan niat dan semangat pejuang 45. Kalau kau tidak punya cukup jiwa patriotisme dalam semangat, berpikirlah dengan optimisme tinggi bahwa tulisanmu akan disukai banyak orang, lalu dicetak dalam buku trus dijual di grademia *uhuk kode endorse, setelah itu kau akan seterkenal penulis macam Raditya Dika yang bisa punya pacar secantik Babe Cabita eh typo Sherina. Optimis membuat mood tidak menurun, karena ketika mood menurun, ide sulit terhimpun, dan tulisanmu ngadat berakhir vakum. Ya sama lah kasusnya seperti mendaki gunung, ketika capek kita tidak boleh lama berhenti, karena lelahnya makin lama akan makin terkalkulasi yang bisa membuat dehidrasi, keram kaki, oposisi, penetrasi, dan akumulasi lalu penalti dan degradasi. Lalu rame-rame bilang "wasitnya dibayar", lah iya bego memang dibayar.
APA INI KENAPA JADI WASIT!!
- Premis atau Tema (sama aja keles ye). Pada dasarnya semua orang bisa berimajinasi, tidak seperti astral project yang harus ngeluarin sukma *wess bahasanya, imajinasi cuma perlu mengkhayal, menciptakan suatu dunia di dalam pikiran, lalu mainkan. Tapi tidak semua premis berasal dari fiktif, bisa juga berdasar pengalaman nyata, ataupun crossover asli fiksi biar bumbu-bumbu dalam cerita lebih berasal, karena masakan tidak cukup gurih hanya dengan garam dan gula, juga di perlukan vetsin dan sebangsanya. Btw saya sebagai penulis super amatir lebih prefer ke arah premis fiktif, asal tau saja imajinasi saya setara dengan level sang maestro sci-fi Christoper Nolan, bedanya beliau bisa mengaplikasikan ke dalam layar lebar, sedangkan saya cuma ke layar smartphone, itupun sering macet, kalaupun berhasil keposting viewersnya sedikit. Ckckck thug life
Ada lagi kasus yang menarik, ini disebut improvisasi dalam penulisan, mungkin juga pernah dialami oleh para pemikir kreatif. Jadi bagi yang dulu semasa sekolah masih belum marak google-googlean, ada kalanya merasa kesulitan ketika mengerjakan LKS tapi tidak menemukan jawaban dalamnya, kemudian mencari di buku materi yang lebih lengkap, tapi tidak juga menemukan jawaban yang pas, well apa yang dilakukan? Nah improvisasi, cukup cari kata-kata yang menurut kita relevan, digabung dengan kata-kata karangan biar terdengar selaras dan nyambung, taraaa kelar permasalahan, nilai urusan belakangan huahaha.
Lagipula proses kegiatan pembelajaran akademik yang kita alami akhirnya berujung pada kegiatan menulis, kalau kata gamer raja terakhir atau raja besarnya itu adalah SKRIPSI, walaupun masih ada proses sidang setelahnya, tapi skripsi cenderung jadi momok menakutkan untuk mahasiswa yang sebentar lagi bergelar sarjana. Saya memang belum pernah merasakan yang namanya skripsi, tapi saya rasa seorang penulis aktif tidak akan banyak dapat masalah jika berhadapan dengan skripsi. Penulis bukan hanya mengandalkan ide dan imajinasi, tapi juga observasi. Seorang Artur Conan Doyle tidak mungkin menulis Sherlock kalau tidak masuk ke dalam dunia kriminal dan investigasi kepolisian, J.K Rowling yang mampu menciptakan Hogwarts pasti mempelajari tentang sihir dan tidak hanya bermodal mantra simsalabim abrakadabra, ataupun Trinity yang membuat Naked Traveler, tidak mungkin kan beliau cuma melihat dunia hanya dengan menonton My Trip My Adventure? Semua melalui tahap observasi, dan tahap observasi juga dialami oleh mahasiswa tingkat akhir yang mengerjakan skripsi.
Well, penulis tidak sulit menyelesaikan skripsi? Kemungkinan besar ya, penulis terbiasa mengexplore ide dan gagasan, dan mahasiswa darurat skrispsi cenderung mengcopy paste tulisan yang sudah ada, tidak ada improvisasi, dan dosen pembimbing yang sudah jeli pasti akan merasa basi lalu meminta koreksi dan koreksi. Beberapa mahasiswa emosi dalam tahap ini, dan terbukti dengan yang baru-baru ini terjadi, mahasiswa geram karena skripsi terus dikoreksi, lalu membunuh dosenya sendiri, sebuah ironi.
Sekali lagi saya belum pernah merasakan skripsi, jadi anggapan saya di atas belum tentu benar juga sih. Tapi satu yang pasti, SKRIPSI berarti MENULIS, jadi jika ingin belajar merasakan SKRIPSI, cobalah MENULIS.
Btw diriku mungkin daftar kuliah tahun ini, doakan aku ya!
*ala benteng takeshi*
Tong, emang lu penulis terkenal sampe ngerti susahnya nulis?
Nah makanya itu, saking sulitnya menulis, tulisan saya sering kandas di tengah jalan. Saya bingung, karya tulis sama hubungan asmara kenapa saling berkoalisi dalam kehidupan sehari-hari saya huhuhu. #plak
Daripada curhat tentang kengenesan kalbu, lebih endes kalau saya mulai pembahasannnya, jadi gini (cari posisi pw, lempar poni), sebelumnya saya pernah punya karangan tulisan yang sudah diposting di catatan facebook, bisa dilokit di akun Herjud, karangan itu sebut saja fanfict, semacam tulisan seorang penggemar yang membuat sebuah cerita fiksi, yang di mana sosok yang dikaguminya bermain dalam cerita tersebut, simpelnya fantasi penggemar pada idolannya, ingat ini FANTASI, bukan DELUSI maupun ILUMINASI atau ZIONIS juga DESEPTIKON.
Fanfict itu jenis tulisan yang gampang, buat imajinasi praktis tapi menarik, tidak perlu kosakata baku atau formal, dengan perspektif orang pertama, seet jadilah sebuah karya, tapi belum tentu karya anda disenangi atau diminati, tergantung premisnya sih kalau kata juri komedi berdiri.
Premis yang saya buat waktu itu sederhana, seorang pembuat kopi (kalau barista ketinggian) di sebuah warung kopi pinggir jurang maksudnya jalan, yang mengalami kisah menarik yaitu warkopnya dijadikan tempat nongkrong sebuah grup idola, dan kemudian perlahan-lahan memunculkan bias-bias asmara di antara beberapa tokoh di dalamnya. Jangan menganggap dulu karangan saya itu mainstream, big no, saya ngebuat tulisan itu serealitas mungkin, soalnya 40% dari karangan itu pernah teraplikasi dalam hidup baginda, 70%nya walaupun fiktif tapi tidak saya buat terlalu cinderella story seperti contoh seorang artis muda jatuh cinta pada karyawan warkop yang telah menumpahkan air mendidih 220° fahrenheit di atas kepalanya, karena saya tau percintaan itu tidak semudah kisah ftv atau drama korea.
(Tidak mudah bagi yang parasnya standar maksud saya)
Mong-ngomong itu 40% 70%=110% ya...
Well, balik lagi ke persoalan, seperti yang saya bilang fanfict itu jenis karangan yang mudah, beda dengan cerita panjang atau semacam teenlit sebutan anak 90an, serta novel 300an halaman, jenis ini harusnya sudah masuk dalam gaya baku dan formal, walaupun beberapa masih ada yang make penulisan casual, tapi tatanannya sudah harus sesuai standar percetakan, nah bagian ini yang sulit, mungkin saya jabarkan satu persatu...
- Sudut pandang, kebanyakan novel yang pernah saya baca menggunakan perspektif orang ketiga yang bisa menjelaskan semua kejadian atau gambaran secara detil. Ini agak sulit, soalnya imajinasi kita harus luwes, ibarat seorang sutradara yang menciptakan tokoh protagonis dan antagonis, lalu memainkannya pula. Beda dengan sudut pandang pertama, hanya menciptakan satu tokoh lalu bercerita tentang apa yang dialami atau dilihat oleh tokoh itu, dan digambarkan dengan sosok AKU. Kesulitannya beda, PERSPEKTIF-3 harus punya ide yang lebih banyak dan luas, jeli dan mendetail, tapi keuntungan sudut pandangan ini yaitu lembar demi lembar akan gampang terisi banyak, tapi di sisi lain akan mudah membuat bosan. Sedangkan kesulitan PERSPEKTIF-1 yaitu membuat tulisan jadi lebih hidup, karena berbekal dengan satu pandangan yang kita harus menciptakan suasana yang tidak terlalu monoton
- Pemilihan kata, beh ini yang paling kampret menurut saya, ini soal kemampuan ilmu berbahasa indonesia yang baik, benar, dan sesuai ejaan yang disempurnakan. Saya pernah bilang ke seorang teman, bahasa indonesia itu lebih susah dari bahasa kuvukiland, ini soal cocok-cocokan kata antara MELIRIK dan MENENGOK, tepat-tepatan penempatan antara DIBAJAK dan DI BAJAK. Itulah kalau kita mau merasakan susahnya bahasa indonesia, menulislah.
- Mood, nah ini juga yang agak sue. Ketika ingin menulis, ada baiknya diawali dengan niat dan semangat pejuang 45. Kalau kau tidak punya cukup jiwa patriotisme dalam semangat, berpikirlah dengan optimisme tinggi bahwa tulisanmu akan disukai banyak orang, lalu dicetak dalam buku trus dijual di grademia *uhuk kode endorse, setelah itu kau akan seterkenal penulis macam Raditya Dika yang bisa punya pacar secantik Babe Cabita eh typo Sherina. Optimis membuat mood tidak menurun, karena ketika mood menurun, ide sulit terhimpun, dan tulisanmu ngadat berakhir vakum. Ya sama lah kasusnya seperti mendaki gunung, ketika capek kita tidak boleh lama berhenti, karena lelahnya makin lama akan makin terkalkulasi yang bisa membuat dehidrasi, keram kaki, oposisi, penetrasi, dan akumulasi lalu penalti dan degradasi. Lalu rame-rame bilang "wasitnya dibayar", lah iya bego memang dibayar.
APA INI KENAPA JADI WASIT!!
- Premis atau Tema (sama aja keles ye). Pada dasarnya semua orang bisa berimajinasi, tidak seperti astral project yang harus ngeluarin sukma *wess bahasanya, imajinasi cuma perlu mengkhayal, menciptakan suatu dunia di dalam pikiran, lalu mainkan. Tapi tidak semua premis berasal dari fiktif, bisa juga berdasar pengalaman nyata, ataupun crossover asli fiksi biar bumbu-bumbu dalam cerita lebih berasal, karena masakan tidak cukup gurih hanya dengan garam dan gula, juga di perlukan vetsin dan sebangsanya. Btw saya sebagai penulis super amatir lebih prefer ke arah premis fiktif, asal tau saja imajinasi saya setara dengan level sang maestro sci-fi Christoper Nolan, bedanya beliau bisa mengaplikasikan ke dalam layar lebar, sedangkan saya cuma ke layar smartphone, itupun sering macet, kalaupun berhasil keposting viewersnya sedikit. Ckckck thug life
(Kamus) *Vetsin: Suatu kondisi di mana tubuh secara otomatis mengeluarkan partikel kotor/debu yang masuk dari hidung*
Ada lagi kasus yang menarik, ini disebut improvisasi dalam penulisan, mungkin juga pernah dialami oleh para pemikir kreatif. Jadi bagi yang dulu semasa sekolah masih belum marak google-googlean, ada kalanya merasa kesulitan ketika mengerjakan LKS tapi tidak menemukan jawaban dalamnya, kemudian mencari di buku materi yang lebih lengkap, tapi tidak juga menemukan jawaban yang pas, well apa yang dilakukan? Nah improvisasi, cukup cari kata-kata yang menurut kita relevan, digabung dengan kata-kata karangan biar terdengar selaras dan nyambung, taraaa kelar permasalahan, nilai urusan belakangan huahaha.
Lagipula proses kegiatan pembelajaran akademik yang kita alami akhirnya berujung pada kegiatan menulis, kalau kata gamer raja terakhir atau raja besarnya itu adalah SKRIPSI, walaupun masih ada proses sidang setelahnya, tapi skripsi cenderung jadi momok menakutkan untuk mahasiswa yang sebentar lagi bergelar sarjana. Saya memang belum pernah merasakan yang namanya skripsi, tapi saya rasa seorang penulis aktif tidak akan banyak dapat masalah jika berhadapan dengan skripsi. Penulis bukan hanya mengandalkan ide dan imajinasi, tapi juga observasi. Seorang Artur Conan Doyle tidak mungkin menulis Sherlock kalau tidak masuk ke dalam dunia kriminal dan investigasi kepolisian, J.K Rowling yang mampu menciptakan Hogwarts pasti mempelajari tentang sihir dan tidak hanya bermodal mantra simsalabim abrakadabra, ataupun Trinity yang membuat Naked Traveler, tidak mungkin kan beliau cuma melihat dunia hanya dengan menonton My Trip My Adventure? Semua melalui tahap observasi, dan tahap observasi juga dialami oleh mahasiswa tingkat akhir yang mengerjakan skripsi.
Well, penulis tidak sulit menyelesaikan skripsi? Kemungkinan besar ya, penulis terbiasa mengexplore ide dan gagasan, dan mahasiswa darurat skrispsi cenderung mengcopy paste tulisan yang sudah ada, tidak ada improvisasi, dan dosen pembimbing yang sudah jeli pasti akan merasa basi lalu meminta koreksi dan koreksi. Beberapa mahasiswa emosi dalam tahap ini, dan terbukti dengan yang baru-baru ini terjadi, mahasiswa geram karena skripsi terus dikoreksi, lalu membunuh dosenya sendiri, sebuah ironi.
Sekali lagi saya belum pernah merasakan skripsi, jadi anggapan saya di atas belum tentu benar juga sih. Tapi satu yang pasti, SKRIPSI berarti MENULIS, jadi jika ingin belajar merasakan SKRIPSI, cobalah MENULIS.
Btw diriku mungkin daftar kuliah tahun ini, doakan aku ya!
*ala benteng takeshi*
Kamis, 21 April 2016
Myopia
Sampai menginjak SMA, mata saya masih bisa memandang jelas papan tulis dari deretan bangku paling belakang, masih enak menonton film bioskop dari sofa urutan huruf H, juga masih sigap mencari komik langka di deretan rak rental buku. Dengan pandangan yang masih jernih, saya juga dengan bebasnya masih bisa mencuri-curi pandang kepada lawan jenis, lewat yang cantik langsung lirik, lewat yang menarik juga lirik.
Ketika kita masih bisa memandang kejauhan, ada kalanya kita tidak memperdulikan apa yang ada di depan, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di sebrang lautan terlihat, mungkin inilah yang saya alami, buta pada yang dekat, melihat pada yang jauh.
Beberapa tahun di belakang, saya punya beberapa orang yang bisa dibilang dekat. Saya bukan orang yang terlahir dengan wajah total rupawan, hanya mengandalkan sifat dan pikiran. Dalam sebulan pertama masuk SMA, langsung menerima perhatian dari tiga orang siswi dalam kelas, mereka bilang saya manis dan pintar, lalu tidak jarang mereka cari-cari perhatian, sayangnya saya tidak memberi balasan, saya tidak acuhkan.
Bukan cuma mereka bertiga, ada lima orang senior yang juga dekat dengan saya. Beda dengan yang sepantaran, lima senior ini lebih frontal mengutarakan perasaan, tapi lagi-lagi rasa tidak terbalas, saya beralasan fokus sekolah, padahal punya target sasaran, siswi seangkatan lain kelas.
Inisialnya D, namanya menggambarkan keindahan sesuai parasnya, saya berusaha mendapat perhatian darinya, mencoba dekat dengannya. 2.5 tahun PDKT tapi masih malu mengungkap isi hati, bahkan sampai detik-detik akhir SMA, saya tidak mendapatkan hasil yang maksimal, tidak disambangi oleh Fortuna.
Saya yang saat itu masih bocah, tidak mengerti analogi sebuah taman penuh mawar, yang di mana kau harus memilih satu tangkai dengan bunga terindah, tapi kau hanya bisa mencari kedepan, tidak boleh mundur kebelakang. Saya ibarat si gelap mata yang beranggapan sesuatu yang spesial pasti terletak di bagian dalam, tak acuh dengan barisan mawar di depan taman, tapi semangat mencari kelopak terindah di barisan belakang, bahkan tidak mepedulikan duri yang menusuk badan.
Sesampai di tujuan apa yang saya dapatkan? Semua mawar dengan bentuk yang sama, bunga warna merah, tidak beda dengan mawar di barisan depan taman. Apa yang saya cari di belakang, ternyata sama dengan apa yang terlihat di depan, jika bijak saat awal memutuskan, saya tidak perlu teriris duri yang mengakibatkan luka.
Ketika bersama D gagal, saya masih terus berpetualang asmara, yang kemudian menemukan dua orang bersahabat yang akhirnya saya dekati keduanya, N dan M. Saya lebih dahulu akrab dengan N, dan meminta dikenalkan pada M. Tidak lama berselang, saya sudah banyak membual manis kepada M, kami tidak terikat status, tapi saya sering mengutarakan rasa. Kemudian N kembali datang, saya kembali gontai antara mereka berdua, lalu dengan brengseknya, saya membuang semua janji dan ucapan manis dengan M, dan menjalin hubungan dengan N, yang sayangnya juga tidak berjalan baik, saya hanya menambah daftar menginjak-injak perasaan banyak perempuan, yang sudah baik menerima saya apa adanya.
Sekarang, saya sudah tidak berhubungan dengan semua orang-orang di atas, ada yang sudah lupa, ada juga yang berusaha pergi sejauh-jauhnya, mungkin ini yang namanya hukuman atas kelakuan buruk yang pernah saya lakukan, kelakuan bodoh mempermainkan sesukanya, kelakuan hina main pergi seenaknya.
Itulah mengapa saya menyebut tulisan ini Myopia, bukan hanya tentang mata saya yang sudah mengalami rabun jauh minus 2.0, juga tentang hubungan terhadap orang-orang yang pernah singgah. Dulu saya buta dengan orang-orang terdekat, malah mencari-cari yang jauh di sebrang. Sekarang, saya hanya bisa melihat yang terdekat, yang sayangnya semua telah hilang, mereka semua telah jauh dari pandangan, yang sudah buram dari jangkauan.
Saya cuma berharap suatu saat bisa bertemu dengan mereka, meminta maaf sebesar-besarnya, sedalam-dalamnya. Kemarin saya laki-laki yang buruk, pikiran licik, bersikap pura-pura manis, dan sekarang saya baru sadar itu, jadi inilah saatnya untuk saya menjadi orang yang lebih baik, lebih menghargai perasaan orang, lebih bersikap jadi laki-laki yang sebenarnya, semoga ini menjadi awal untuk bisa jadi sesuatu yang baru.
Monita Tahalea - Memulai Kembali
Ketika kita masih bisa memandang kejauhan, ada kalanya kita tidak memperdulikan apa yang ada di depan, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di sebrang lautan terlihat, mungkin inilah yang saya alami, buta pada yang dekat, melihat pada yang jauh.
Beberapa tahun di belakang, saya punya beberapa orang yang bisa dibilang dekat. Saya bukan orang yang terlahir dengan wajah total rupawan, hanya mengandalkan sifat dan pikiran. Dalam sebulan pertama masuk SMA, langsung menerima perhatian dari tiga orang siswi dalam kelas, mereka bilang saya manis dan pintar, lalu tidak jarang mereka cari-cari perhatian, sayangnya saya tidak memberi balasan, saya tidak acuhkan.
Bukan cuma mereka bertiga, ada lima orang senior yang juga dekat dengan saya. Beda dengan yang sepantaran, lima senior ini lebih frontal mengutarakan perasaan, tapi lagi-lagi rasa tidak terbalas, saya beralasan fokus sekolah, padahal punya target sasaran, siswi seangkatan lain kelas.
Inisialnya D, namanya menggambarkan keindahan sesuai parasnya, saya berusaha mendapat perhatian darinya, mencoba dekat dengannya. 2.5 tahun PDKT tapi masih malu mengungkap isi hati, bahkan sampai detik-detik akhir SMA, saya tidak mendapatkan hasil yang maksimal, tidak disambangi oleh Fortuna.
Saya yang saat itu masih bocah, tidak mengerti analogi sebuah taman penuh mawar, yang di mana kau harus memilih satu tangkai dengan bunga terindah, tapi kau hanya bisa mencari kedepan, tidak boleh mundur kebelakang. Saya ibarat si gelap mata yang beranggapan sesuatu yang spesial pasti terletak di bagian dalam, tak acuh dengan barisan mawar di depan taman, tapi semangat mencari kelopak terindah di barisan belakang, bahkan tidak mepedulikan duri yang menusuk badan.
Sesampai di tujuan apa yang saya dapatkan? Semua mawar dengan bentuk yang sama, bunga warna merah, tidak beda dengan mawar di barisan depan taman. Apa yang saya cari di belakang, ternyata sama dengan apa yang terlihat di depan, jika bijak saat awal memutuskan, saya tidak perlu teriris duri yang mengakibatkan luka.
Ketika bersama D gagal, saya masih terus berpetualang asmara, yang kemudian menemukan dua orang bersahabat yang akhirnya saya dekati keduanya, N dan M. Saya lebih dahulu akrab dengan N, dan meminta dikenalkan pada M. Tidak lama berselang, saya sudah banyak membual manis kepada M, kami tidak terikat status, tapi saya sering mengutarakan rasa. Kemudian N kembali datang, saya kembali gontai antara mereka berdua, lalu dengan brengseknya, saya membuang semua janji dan ucapan manis dengan M, dan menjalin hubungan dengan N, yang sayangnya juga tidak berjalan baik, saya hanya menambah daftar menginjak-injak perasaan banyak perempuan, yang sudah baik menerima saya apa adanya.
Sekarang, saya sudah tidak berhubungan dengan semua orang-orang di atas, ada yang sudah lupa, ada juga yang berusaha pergi sejauh-jauhnya, mungkin ini yang namanya hukuman atas kelakuan buruk yang pernah saya lakukan, kelakuan bodoh mempermainkan sesukanya, kelakuan hina main pergi seenaknya.
Itulah mengapa saya menyebut tulisan ini Myopia, bukan hanya tentang mata saya yang sudah mengalami rabun jauh minus 2.0, juga tentang hubungan terhadap orang-orang yang pernah singgah. Dulu saya buta dengan orang-orang terdekat, malah mencari-cari yang jauh di sebrang. Sekarang, saya hanya bisa melihat yang terdekat, yang sayangnya semua telah hilang, mereka semua telah jauh dari pandangan, yang sudah buram dari jangkauan.
Saya cuma berharap suatu saat bisa bertemu dengan mereka, meminta maaf sebesar-besarnya, sedalam-dalamnya. Kemarin saya laki-laki yang buruk, pikiran licik, bersikap pura-pura manis, dan sekarang saya baru sadar itu, jadi inilah saatnya untuk saya menjadi orang yang lebih baik, lebih menghargai perasaan orang, lebih bersikap jadi laki-laki yang sebenarnya, semoga ini menjadi awal untuk bisa jadi sesuatu yang baru.
Monita Tahalea - Memulai Kembali
Senin, 04 April 2016
Barangmu Lenyap?
Perlu kalian ketahui, barang di sini bukan tiiiiiit atau tiiiiiit, tapi barang atau benda milik. Pernahkah kalian mengalami kehilangan barang pribadi? Yang ditanya barang ya, bukan dia yang dulu pernah singgah. puk
Berdasarkan kisah nyata, diri ini banyak sekali mengalami kehilangan barang, dominan hilang dicolong orang, baik sengaja maupun pura-pura tidak sengaja.
Barang pertama yang hilang sewaktu SD, punya pensil yang badan pensilnya (kalo sebut batang takut salah fokus) bermotif dollar kertas. Seketika kelas riuh, soalnya yang begituan di jaman 90an begitu rare. Sayangnya selepas istirahat turun minum 2x30 menit, si Pensil raib dari dalam tas, dan kepada guru yang sebagai pihak berwenang terdekat, menakut-nakuti seisi kelas dengan teror "yang suka curi barang orang lain, setelah ini akan sakit perut", sayangnya tragedi tersebut berlalu begitu saja, pelaku tidak tertangkap, saya pun tidak berminat memblow-up masalah ini ke media, biarlah dan ikhlaskan, saya hanya berharap Pensil itu hidup lalu menusuk pantat sang pelaku sedalam 7cm.
Barang kedua, hmmm sepertinya HP semasa SMP, HP tersebut pemberian bapak saya, merknya sama kaya salah satu personel F4, Siemens. Bagi anak 90an, punya HP pribadi dulunya sangat membanggakan, membuat kharisma sedikit menanjak, ketampanan melonjak, sukma merangkak. plak
Peristiwa itu terjadi ketika langit berawan di selasa pahing, seperti biasa bocah pulang sekolah pasti punya kegiatan sore, dan yang sedang happening saat itu adalah Mancing.
Ketika teman-teman lain menunggu umpan dimakan, mereka bergantian main game dari HP saya itu, selama dua jam dipakai nonstop, akhirnya HP itu lowbat. Tanpa perasaan berdosa, mereka mengembalikannya dalam keadaan tidak bernyawa. Saya yang sedang fokus memandang air sungai, menaruh HP tersebut di rumput, like a boss.
2 jam berlalu, acara pemancingan kami sudahi dengan kepuasan 68% setelah mendapat seekor bolu jawa seukuran tangan Adul, sayangnya euforia itu membuat saya lupa membawa pulang serta si HP, baru teringat setelah mandi sore, itupun setelah dicari-cari, benda itu sudah raib digondol pemancing lain. Mancing Maniak Mantap!
Barang selanjutnya ini agak menguras emosi, soalnya barang yang baru seminggu dibeli, bahkan masih tercium bau-bau toko. Pelakunya ketahuan, doi teman yang beda kelas di SMK, karena teman jadi tidak mencurigakan, apanya busuk! Tas dan komik naruto saya digondol, bilangnya pinjam tapi seminggu hilang, doi out dari sekolah, tapi sempat muncul di tongkrongan. Saya yang dasarnya Pemalu tapi Pembunuh tanpa babibu langsung menyerbu, doi nyolot lalu kabur. Mukanya masih saya ingat, wajah tidak ganteng bermotif parutan kelapa, rambut tidak stylish basah basah aqua, intinya muka-muka greget kentutable.
Ada juga barang pemberian orang lain, lalu karena keteledoran diri sendiri kemudian barang itu raib, misalnya sepatu pemberian teman saya yang cina tampan tapi namanya sama kaya Mutilator (orang yang memutilasi) dari jombang, dia ngasi (lebih tepatnya saya memaksa diberi) sepatu Converse dengan tali slip ala sepatu New Era jaman trio kwek-kwek. Sayangnya lagi-lagi Sepatu itu saya tinggalkan di rumah, sedangkan saya beranjak ke kampung ortu. 2 tahun setelahnya, Sepatu itu saya dapati sedang dipakai teman sekompleks, saya tidak berniat merusak pertemanan hanya karena sepasang alas kaki, biarlah dan ikhlaskan, saya hanya berharap suatu saat Sepatu itu hidup lalu menendang bokongnya seperti yang dilakukan Flat kepada Spongebob, begini percakapannya,
Flying Dutchman: "Baiklah aku beri kalian tiga permintaan!"
Patrick: "Apa tiga? aku minta lima!!"
Flying Dutchman: "Empat!"
Patrick: "Tiga atau tidak sama sekali!"
Wey salah percakapan goblo!!
Kemudian barang pemberian mantan, berupa gelas bergambar zodiak monyet, ya ini penghinaan yang manis, untunglah sang pemberi parasnya poker-face eh baby-face, jadi takapalah gambar monyet, yang penting monyet-akan cintanya sukses di acc, ahay.
Btw nasib gelasnya sama kaya sepatu di atas, saya tinggalkan di rumah. Sepulang dari kampung ortu, gelasnya sudah hilang, sama dengan kenangan pemberinya 2 tahun silam.
#now playing: Masa lalu, Linu Radatista
Semua kenangan tentang barang hilang sebenarnya sudah agak buram di memori dan sanubari, tapi kembali jelas setelah hari ini terulang lagi tragedi kehilangan benda pribadi, Baju Baru Hilang Di Jemuran. Entah bagaimana kronologinya, tiba-tiba baju yang sudah saya cuci pagi-pagi buta, digondol satu unit oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dan herannya, entah mengapa orang itu tau kalo itu baju yang paling baru, ckckck sepertinya kejahatan ini dilakukan oleh seorang profesional dengan mata yang jeli. Tapi untungnya baju yang hilang ukurannya kekecilan, dan yang diambil bukan baju polo atau tshirt favorit yang ada gambar badaknya, lah itu baju atau larutan penyegar? *bata
Well, terima kasih sudah membaca ketikan yang random ini. Mohon maaf bila isi tulisannya hanya sedikit memuat pengetahuan, lebih tepatnya tidak memuat pengetahuan apapun. Mengapa seperti itu? Karena saya sependapat dengan sir Arthur Conan Doyle dalam kutipan Novelnya, Sherlock Holmes: Penelusuran Benang merah,
"Otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabotan yang sesuai dengan pilihanmu. Orang pada umumnya mengambil semua informasi yang diketahuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya, dengan hati-hati memilih apa yang akan masuk ke loteng otaknya, ia tidak akan memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya, sebab peralatannya pasti sudah sangat banyak. Semuanya itu diatur dengan rapi di loteng otaknya sehingga suatu ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru jika berpikiran loteng otak mempunyai dinding yang bisa membesar, karena untuk pengetahuan yang kau masukkan, akan membuat sesuatu yang kau ketahui terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna."
^ini kunci jawabanya ^_^
*ngacir
Berdasarkan kisah nyata, diri ini banyak sekali mengalami kehilangan barang, dominan hilang dicolong orang, baik sengaja maupun pura-pura tidak sengaja.
Barang pertama yang hilang sewaktu SD, punya pensil yang badan pensilnya (kalo sebut batang takut salah fokus) bermotif dollar kertas. Seketika kelas riuh, soalnya yang begituan di jaman 90an begitu rare. Sayangnya selepas istirahat turun minum 2x30 menit, si Pensil raib dari dalam tas, dan kepada guru yang sebagai pihak berwenang terdekat, menakut-nakuti seisi kelas dengan teror "yang suka curi barang orang lain, setelah ini akan sakit perut", sayangnya tragedi tersebut berlalu begitu saja, pelaku tidak tertangkap, saya pun tidak berminat memblow-up masalah ini ke media, biarlah dan ikhlaskan, saya hanya berharap Pensil itu hidup lalu menusuk pantat sang pelaku sedalam 7cm.
Barang kedua, hmmm sepertinya HP semasa SMP, HP tersebut pemberian bapak saya, merknya sama kaya salah satu personel F4, Siemens. Bagi anak 90an, punya HP pribadi dulunya sangat membanggakan, membuat kharisma sedikit menanjak, ketampanan melonjak, sukma merangkak. plak
Peristiwa itu terjadi ketika langit berawan di selasa pahing, seperti biasa bocah pulang sekolah pasti punya kegiatan sore, dan yang sedang happening saat itu adalah Mancing.
Ketika teman-teman lain menunggu umpan dimakan, mereka bergantian main game dari HP saya itu, selama dua jam dipakai nonstop, akhirnya HP itu lowbat. Tanpa perasaan berdosa, mereka mengembalikannya dalam keadaan tidak bernyawa. Saya yang sedang fokus memandang air sungai, menaruh HP tersebut di rumput, like a boss.
2 jam berlalu, acara pemancingan kami sudahi dengan kepuasan 68% setelah mendapat seekor bolu jawa seukuran tangan Adul, sayangnya euforia itu membuat saya lupa membawa pulang serta si HP, baru teringat setelah mandi sore, itupun setelah dicari-cari, benda itu sudah raib digondol pemancing lain. Mancing Maniak Mantap!
Barang selanjutnya ini agak menguras emosi, soalnya barang yang baru seminggu dibeli, bahkan masih tercium bau-bau toko. Pelakunya ketahuan, doi teman yang beda kelas di SMK, karena teman jadi tidak mencurigakan, apanya busuk! Tas dan komik naruto saya digondol, bilangnya pinjam tapi seminggu hilang, doi out dari sekolah, tapi sempat muncul di tongkrongan. Saya yang dasarnya Pemalu tapi Pembunuh tanpa babibu langsung menyerbu, doi nyolot lalu kabur. Mukanya masih saya ingat, wajah tidak ganteng bermotif parutan kelapa, rambut tidak stylish basah basah aqua, intinya muka-muka greget kentutable.
Ada juga barang pemberian orang lain, lalu karena keteledoran diri sendiri kemudian barang itu raib, misalnya sepatu pemberian teman saya yang cina tampan tapi namanya sama kaya Mutilator (orang yang memutilasi) dari jombang, dia ngasi (lebih tepatnya saya memaksa diberi) sepatu Converse dengan tali slip ala sepatu New Era jaman trio kwek-kwek. Sayangnya lagi-lagi Sepatu itu saya tinggalkan di rumah, sedangkan saya beranjak ke kampung ortu. 2 tahun setelahnya, Sepatu itu saya dapati sedang dipakai teman sekompleks, saya tidak berniat merusak pertemanan hanya karena sepasang alas kaki, biarlah dan ikhlaskan, saya hanya berharap suatu saat Sepatu itu hidup lalu menendang bokongnya seperti yang dilakukan Flat kepada Spongebob, begini percakapannya,
Flying Dutchman: "Baiklah aku beri kalian tiga permintaan!"
Patrick: "Apa tiga? aku minta lima!!"
Flying Dutchman: "Empat!"
Patrick: "Tiga atau tidak sama sekali!"
Wey salah percakapan goblo!!
Kemudian barang pemberian mantan, berupa gelas bergambar zodiak monyet, ya ini penghinaan yang manis, untunglah sang pemberi parasnya poker-face eh baby-face, jadi takapalah gambar monyet, yang penting monyet-akan cintanya sukses di acc, ahay.
Btw nasib gelasnya sama kaya sepatu di atas, saya tinggalkan di rumah. Sepulang dari kampung ortu, gelasnya sudah hilang, sama dengan kenangan pemberinya 2 tahun silam.
#now playing: Masa lalu, Linu Radatista
Semua kenangan tentang barang hilang sebenarnya sudah agak buram di memori dan sanubari, tapi kembali jelas setelah hari ini terulang lagi tragedi kehilangan benda pribadi, Baju Baru Hilang Di Jemuran. Entah bagaimana kronologinya, tiba-tiba baju yang sudah saya cuci pagi-pagi buta, digondol satu unit oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dan herannya, entah mengapa orang itu tau kalo itu baju yang paling baru, ckckck sepertinya kejahatan ini dilakukan oleh seorang profesional dengan mata yang jeli. Tapi untungnya baju yang hilang ukurannya kekecilan, dan yang diambil bukan baju polo atau tshirt favorit yang ada gambar badaknya, lah itu baju atau larutan penyegar? *bata
Well, terima kasih sudah membaca ketikan yang random ini. Mohon maaf bila isi tulisannya hanya sedikit memuat pengetahuan, lebih tepatnya tidak memuat pengetahuan apapun. Mengapa seperti itu? Karena saya sependapat dengan sir Arthur Conan Doyle dalam kutipan Novelnya, Sherlock Holmes: Penelusuran Benang merah,
"Otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabotan yang sesuai dengan pilihanmu. Orang pada umumnya mengambil semua informasi yang diketahuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya, dengan hati-hati memilih apa yang akan masuk ke loteng otaknya, ia tidak akan memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya, sebab peralatannya pasti sudah sangat banyak. Semuanya itu diatur dengan rapi di loteng otaknya sehingga suatu ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru jika berpikiran loteng otak mempunyai dinding yang bisa membesar, karena untuk pengetahuan yang kau masukkan, akan membuat sesuatu yang kau ketahui terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna."
^ini kunci jawabanya ^_^
*ngacir
Langganan:
Postingan (Atom)